Menu Tutup

Menata Kereta Api – Hubungan Jakarta-Surabaya

Pemberangkatan perdana KA Ekspres/Kilat Surabaya-Jakarta. Foto : Sugimin Tukijan Gregorius (Facebook)

DKARI (Djawatan Kereta Api Republik Indonesia) dan SS-VS (Staatsspoorwegen-Verenigd Spoorwegbedrijft) digabung per 1 Januari 1950. Penggabungan kedua entitas kereta api ini menghasilkan Djawatan Kereta Api atau DKA, yang dikepalai oleh Ir. Effendi Saleh. DKA yang baru dibentuk menghadapi beragam masalah, serta tugas berat. Hubungan Jakarta-Surabaya yang sebelumnya terputus, kembali dilanjutkan oleh DKA.

Kamis, 28 September 1950, hari besar itu tiba. Dari Gambir, meluncurlah KA Kilat dengan nomor 4102 menuju Surabaya Pasar Turi. Hubungan langsung Jakarta-Surabaya dalam sehari kini dimulai kembali. Berbeda dengan Eendaagsche yang menempuh Jakarta-Surabaya melalui Yogyakarta, KA Kilat ini menempuh rute Jakarta-Semarang-Surabaya Pasar Turi. Hal ini disebabkan karena Jembatan Progo di lintas Yogyakarta-Kutoarjo masih terputus dan dalam proses perbaikan. Terdapat tiga kelas yang ditawarkan, yakni Kelas 1, Kelas 2, dan Kelas 3. Selain itu, KA Kilat ini juga membawa kereta bagasi dan kereta restorasi.

​Perjalanan perdana dari Gambir dihela C5010. Perjalanan perdana dari Jakarta ini membawa serta sebuah kereta inspeksi yang biasanya digunakan oleh Presiden/Wakil Presiden. KA Kilat perdana ini meninggalkan Gambir pukul 6 pagi. Di dalamnya, terdapat juga pejabat-pejabat DKA, pejabat pemerintahan, serta tamu undangan lainnya. Karena adanya tamu-tamu tersebut, penumpang biasa harus “legawa” duduk di kelas 3 karena kelas 1 dan 2 sudah digunakan oleh para undangan.

Sepanjang Cikampek-Jatibarang, pada kereta inspeksi dibacakan sebuah pidato yang disiapkan oleh Menteri Perhubungan Ir. Djuanda. Pidato ini dibacakan oleh seorang pejabat DKA. Kemudian, Kepala Bagian Lalu-lintas dan Perniagaan DKA, Ir. Gunari Wiriodinoto berpidato. Gunari Wiriodinoto memaparkan apa yang telah dilakukan DKA selama ini, serta bagaimana DKA mampu menjalankan KA Kilat sehari ini, walaupun waktu tempuhnya cukup lama (14 jam 21 menit untuk Jakarta-Surabaya). Dalam perjalanan perdananya, KA Kilat dari Jakarta bertemu dengan KA Kilat dari Surabaya di stasiun Pekalongan. Sayangnya, perjalanan perdana dari Jakarta tiba di Surabaya Pasar Turi terlambat 110 menit. KA Kilat ini memiliki kecepatan rata-rata 70 km/jam.

Foto koleksi Perpustakaan Nasional

 

JADWAL KA KILAT JAKARTA-SURABAYA, 1950
Gambir-Surabaya Pasar Turi
Gambir 06.00
Cikampek 07.30
Jatibarang 09.13
Cirebon 10.08
Tegal 11.40
Pekalongan 12.56
Semarang Tawang 14.44
Gambringan 15.58
Kradenan 16.33
Cepu 17.36
Bojonegoro 18.18
Babat 19.03
Surabaya Pasar Turi 20.21
Surabaya Pasar Turi-Gambir
Surabaya Pasar Turi 05.30
Babat 06.52
Bojonegoro 07.34
Cepu 08.19
Kradenan 09.23
Gambringan 09.58
Semarang Tawang 11.12
Pekalongan 13.02
Tegal 14.17
Cirebon 15.54
Jatibarang 16.44
Cikampek 18.27
​Gambir 19.50

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!