Menu Tutup

Tirtonadi yang Bukan Terminal

KA Tirtonadi melintas jembatan Progo. Foto : Alm. M. V. A Krishnamurti

Tirtonadi sempat mewarnai dunia perkeretaapian Indonesia, sebagai KA Kelas Ekonomi, yang melayani rute Solo-Jakarta. Tirtonadi dihapus pada 2002, bersamaan dengan kebijakan Rasionalisasi KA.

Sebelum diberi nama Tirtonadi, KA ini sering disebut sebagai Cepat Solo atau Ekspres Siang Solo. KA ini termasuk KA tua, sudah tercantum dalam Jadwal Kereta Api 1961. Pada periode 1961-65, rangkaian KA ini digabung dengan rangkaian KA Cepat Solo-Bandung dari Solo Balapan, dimana kedua KA ini dipisah di Kroya. Setelah itu, kedua KA ini berjalan terpisah. Cepat Solo-Bandung sendiri kemungkinan besar diperpendek relasinya, menjadi Cepat Yogyakarta-Bandung. ┬áPada 1969, Cepat Solo (KA 21) berangkat dari Solo jam 04.50 dan tiba di PSE 17.45, sementara KA 22 berangkat dari PSE jam 07.28 dan tiba di Solo 21.11 . Ekspres Siang Solo sendiri menjadi “tersangka” utama dalam Tragedi Purwosari yang memicu lahirnya PO Eka-Mira. KA ini menjadi jatah dinasan BB201 pada waktu itu, dengan rangkaian sepanjang lebih kurang 9 kereta.

CC201 78 dengan KA Tirtonadi di Stasiun Ijo. Foto : Alm. M. V. A Krishnamurti

Nama Tirtonadi disematkan di era 1990an, mungkin pada 1994 seiring berubahnya nama Senja Ekonomi Solo menjadi Bengawan. Tirtonadi sendiri lebih mirip KA Lokal dibandingkan KA Jarak Jauh. Hal ini diakibatkan karena banyaknya perhentian KA ini. KA ini berhenti di hampir semua stasiun di lintas Cikampek-Cirebon-Purwokerto dalam GAPEKA 2001. KA ini berangkat pada pagi hari dari terminusnya, di depan KA-KA lainnya. Namun kenyataan di lapangan berkata sebaliknya. Walaupun berangkat awal, KA ini terhitung terakhir masuk di stasiun tujuannya. Tirtonadi biasa masuk Jakarta saat malam (pukul 18 ke atas), bahkan lebih parah lagi, KA ini biasa tiba di Solo antara pukul 20 hingga lepas tengah malam. Penumpang tujuan Solo hanya berkisar 20% dari okupansi total, mengingat KA ini tiba terlalu malam di Solo. Selain itu, pendapatan dari KA ini dirasa tidak lagi mencukupi karena “derasnya kebocoran”. Nasib Tirtonadi akhirnya berakhir pada 2002, setelah PT KA memutuskan untuk menghapusnya melalui kebijakan Rasionalisasi KA.

Stamformasi 1989 :
KA 201 Ekspres Siang/Cepat Solo (SLO-PSE)
KA 202 Ekspres Siang/Cepat Solo (TPK-SLO)
Stamformasi : 9 K3 + KM3 + BP

Stamformasi 1996 :
KA 123 Tirtonadi (SLO-PSE/TPK)
KA 124 Tirtonadi (TPK/PSE-SLO)
SF : CC201 + 7 K3 + KP3 + KM/P3

Tirtonadi sempat muncul kembali sebagai KA Lebaran pada 2009 silam, memanfaatkan kereta ekonomi baru yang keluar dari INKA. Namun, KA ini tidak diregulerkan dan hanya dijalankan pada Lebaran 2009 saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!