Pada masa Perang Kemerdekaan, setelah Agresi Militer Kedua, Belanda berhasil menduduki wilayah Purwokerto dan Banyumas. Namun demikian, TNI masih aktif “mengganggu” Belanda di wilayah ini dengan taktik gerilya. Diantara para gerilyawan TNI, terdapat satu nama yang kisahnya cukup menarik, yakni Sadir.
Prajurit Sadir adalah salah satu prajurit dalam regu Sersan Santosa, kesatuan Kompi Hadihermono Cilacap. Sersan Santosa sendiri adalah mantan anggota PETA. Anggota regu Sersan Santoso semakin bertambah seiring kiprahnya, sehingga statusnya dinaikkan menjadi seksi. Seksi Santosa sendiri bermarkas di Papringan, Banyumas. Riwayat hidup Prajurit Sadir sendiri tidak diketahui. Kapan ia lahir, kapan ia bergabung dengan TNI, dan dimana ia dimakamkan tidak diketahui. Namun, keberaniannya dapat kita ketahui. Jejak keberanian Sadir dimulai sekitar 1948. Pada waktu itu, Sadir bersama rekan-rekannya menyerang pos District Politie/DP di Susukan, Somagede. Beberapa anggota DP dapat dibunuh tanpa ada korban dari pihak TNI. Dalam penyerangan ini, Sadir merampas sebuah senapan Thompson beserta pelurunya. Senapan ini kemudian menjadi senapan kesayangannya.
Belum puas dengan Thompson, Sadir ingin menyandang senapan mesin ringan Bren. Direncanakanlah penghadangan untuk merampas senjata. Satu regu TNI kemudian bergerak ke kota Banyumas pada Jumat malam. Satu regu ini mengambil posisi di sebelah barat gedung eks Kabupaten Banyumas. Lokasi penghadangan kemungkinan besar berada di dekat Kepatihan Banyumas. Pukul 22, sorot lampu terlihat dari kejauhan. Sebuah jeep bergerak membelah malam. Di dalamnya, terdapat 5 orang Belanda dan anggota DP. Di antara para penumpang, terlihat sepucuk Bren, incaran Sadir. Layaknya Rambo, begitu jeep melintas di depannya, Sadir langsung menghamburkan peluru dari magasen Thompsonnya. Karena tembakan dari jarak yang sangat dekat, Jeep kemudian kehilangan kendali, lalu menabrak pohon di pinggir jalan dan kemudian terbalik. Para penumpangnya tergeletak tak berdaya. Dengan segera, regu TNI yang mencegat langsung merampas senjata dan amunisi yang tumpah dari dalam Jeep. Regu TNI langsung menghilang di kegelapan malam, menghindari bala bantuan Belanda. Regu TNI ini mundur melewati desa Pekunden, menuju markasnya di Papringan. Di Pekunden, Regu TNI ini berpapasan dengan patroli Belanda yang lain. Patroli Belanda ini sebenarnya dalam posisi yang dapat diserang. Namun, karena mempertimbangan kemungkinan adanya bumi hangus Pekunden sebagai pembalasan jika patroli ini diserang, Regu TNI ini memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya menuju Papringan. Setelahnya, Seksi Santosa memutuskan untuk meninggalkan Papringan, menyebrangi Serayu, lalu bergerak menuju Desa Kediri.
Sekalipun sudah mendapatkan Thompson dan Bren, Sadir masih belum puas. Ia ingin mendapatkan seragam KNIL, khususnya seragam Batalion Infanteri V KNIL yang memiliki julukan Andjing NICA. Julukan ini selain sebagai bentuk hinaan juga merujuk ke lambang Batalion ini yang berupa kepala anjing. Sadir kemudian menjalin kerjasama dengan para tukang cuci yang biasa mencuci seragam KNIL di pleret/dam desa Kejawar. Melalui kerjasama ini, satu stel seragam KNIL berwarna hijau-hijau berpindah tangan ke Sadir. Sadir mencobanya. Ukurannya ternyata cocok. Sadir juga berkulit gelap, mirip dengan anggota Batalion V asal Ambon. Ia lalu mengambil sebuah sepeda yang sebelumnya dirampas oleh Prajurit Rakit. Sepeda ini diperoleh dari aksi nekat Rakit yang berkelahi dengan seorang Prajurit Belanda di Pakunden. Dari perkelahian di depan rumah bordil ini, Rakit berhasil merampas sepeda dan sepucuk revolver Bulldog. Sadir, dengan seragam Andjing NICA dan sepeda rampasan ini kemudian dengan santainya memasuki kota Banyumas. Sadir mengayuh sepedanya melintasi jalan-jalan kota. Warga Banyumas tahu jika Sadir adalah anggota TNI, dan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat aksi nekatnya. Sadir kemudian dihentikan oleh seorang Warga Tionghoa. Ia tahu jika Sadir adalah KNIL gadungan, lalu meminta agar Sadir berlindung saja di tokonya agar tidak ditangkap Belanda. Namun, Sadir menolaknya dan tetap berkeliling kota. Prajurit Belanda yang berpapasan dengan Sadir sendiri tidak menyadari jika Sadir adalah KNIL gadungan. Karenanya Sadir bebas bersepeda keliling kota. Masih belum puas, Sadir kemudian beraksi kembali. Kali ini ia menyamar menjadi gamel/pemelihara kuda dan kembali masuk ke Banyumas.
Kisah Sadir ini adalah satu dari sekian banyak kisah keberanian prajurit TNI selama masa Perang Kemerdekaan. Banyak prajurit yang tidak lagi takut dengan kematian, yang keberaniannya sudah mencapai level nekat atau bahkan serampangan. Sayangnya, kisah-kisah individu seperti ini seringkali tidak terdokumentasikan. Banyak veteran yang “tidak merasa berjasa”, merasa perjuangannya tidak seberapa sehingga tidak menceritakan pengalamannya ke orang lain.
Referensi
Tim DHC BPP – JSN 45 Kabupaten Banyumas. 2004. Banyumas Membara Era Tahun 1945-1950. Gombong. Grafika
Priyono. 2023. Batalyon-Batalyon Bentukan Belanda dalam Perang Belanda di Indonesia (1945-1950). Yogyakarta. Matapadi