Menu Tutup

Argo Dwipangga, Gajah Sakti dari Solo

CC203 12 dengan rangkaian Dwipangga. Foto : Alm. M.V.A Krishnamurti

Dwipangga diluncurkan sebagai KA Spesial, bukan KA Argo. Dwipangga diluncurkan pada 21 April 1998 di Solo Balapan, dan Yogyakarta. Peluncuran di Solo Balapan dihadiri oleh Menteri Perhubungan Giri Suseno Hadihardjono, Dirut Perumka Soemino Eko S. , dan Walikota Solo Imam Soetopo. Peluncuran di Yogyakarta dihadiri oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X. Peluncuran di Yogyakarta merupakan bentuk penghormatan kepada Sri Sultan Hamengkubuwono X yang memberikan nama Dwipangga.

Sebagai KA Spesial, Dwipangga memiliki susunan kursi 2-1. Kereta-kereta Spesial milik Dwipangga dibuat dengan merehab kereta-kereta lama, seperti kereta buatan 1950an dan kereta buatan Rumania tahun 1984.

Dwipangga memiliki pola berkebalikan dengan Argolawu. Dwipangga berangkat malam dari Solo Balapan, dan siang dari Gambir. Sebagai KA Spesial, Dwipangga hanya bertahan hingga Oktober 1998. Akibat masalah okupansi yang dirasa kurang, Dwipangga akhirnya dijadikan KA Argo dengan nama Argo Dwipangga. Pada awal beroperasi, rangkaian Argo Dwipangga masih belang, sebagian sudah menggunakan livery abu-abu Argo, sebagian lainnya masih mengenakan livery Putih-Kuning Gading.

Rangkaian Argo Dwipangga di Purwosari. Foto : Alm. M.V.A Krishnamurti

Argo Dwipangga kemudian diberi rangkaian Argo baru buatan INKA, sekitar November 1998. Rangkaian dengan nomor K1-988XX ini merupakan rangkaian “sisa” Argo Wilis, tanpa dilengkapi kereta makan dan kereta pembangkit atau hanya K1. Kereta Makan dan Kereta Pembangkit untuk Argo Dwipangga dibuatkan dari Kereta Makan dan Kereta Pembangkit yang sudah ada di Dipo Kereta Solo Balapan. Rangkaian baru ini menggunakan bogie NT-60 (K8). Selain itu, Dwipangga juga menggunakan K1-968XX ex JSO751 Argolawu setelah Lawu menggunakan rangkaian berbogie K9.

Dwipangga dan Argo Dwipangga memiliki logo berupa Gajah dengan pose melompat. Pada awal Argo Dwipangga beroperasi, logo ini sempat tidak digunakan, dapat dilihat di foto di atas. Namun, logo ini akhirnya dimunculkan kembali. Logo ini tidak digunakan setelah pergantian livery, dari abu-abu menjadi “Argo Ombak”.

Lambang Gajah yang dipakai Dwipangga-Argo Dwipangga. Foto : Argoanggrek Railfans (Flickr)

Pada 09 April 2002, sekitar pukul 22.50, KA Argo Dwipangga yang dihela CC203 16 terguling di desa Sarwogadung, Prembun, Kebumen. Kejadian ini menyebabkan 7 orang penumpang meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka. Kejadian ini diakibatkan karena rel di jembatan bergeser akibat dihantam sebuah truk boks. Rel bergeser sekitar 30 cm. Beberapa saat setelah truk menghantam jembatan, lewatlah Argo Dwipangga. KA kemudian terlempar ke sawah karena rel yang bergeser. CC203 16 “terbang” dan mendarat di sawah, sementara rangkaiannya anjlok tidak beraturan. Beberapa kereta terguling dan tercebur ke sawah. Kejadian ini membuat K1-98806 rusak berat dan tidak dapat digunakan kembali karena framenya melengkung. Saat kejadian, Wakil Bupati Kebumen, Nasirruddin AM kebetulan berada di dekat lokasi PLH, menghadiri sebuah acara. Mendapat laporan dari warga, beliau langsung mengarahkan evakuasi penumpang, sembari menghubungi Bupati dan Muspida dan meminta pertolongan. Jalur Selatan tertutup selama beberapa waktu, sembari menunggu rangkaian dievakuasi dan perbaikan jembatan yang bergeser.

Truk Box yang menabrak jembatan hingga bergeser. Koleksi Bpk. Asep Suherman

Rangkaian Dwipangga yang anjlok. Foto : Suara Merdeka

Dwipangga juga sempat anjlok di Tumiyang, Banyumas, pada 26 April 2007. Kereta Makan anjlok di atas jembatan, dan sempat terseret sekitar 70 meter. Kejadian ini tidak memakan korban jiwa meskipun rel sempat tidak dapat dilalui hingga proses evakuasi selesai.

Rangkaian Dwipangga yang anjlok di Tumiyang. Foto : Antara

Argo Dwipangga memiliki okupansi yang cukup bagus. Dwipangga memiliki satu perjalanan Fakultatif (hanya dijalankan pada waktu tertentu) yang berjalan kurang lebih 2 jam di belakang Dwipangga reguler. KA Fakultatif ini biasanya dijalankan pada libur panjang dan masa lebaran/natal.

Dwipangga reguler biasanya membawa 7/8 K1, ditambah M1 dan P. Semasa kebijakan kereta aling-aling berlaku, Dwipangga membawa kereta bagasi yang diletakkan di belakang lokomotif. Setelah kebijakan aling-aling dicabut, di belakang lokomotif diisi oleh K1 pertama, atau kereta wisata (jika disewa).

CC203 02 menghela KA Argo Dwipangga. Foto : Bpk. Happy Muhardi

Dwipangga mendapat rangkaian baru pada 2011 silam. Rangkaian ini merupakan hasil retrofit/penyehatan yang dilakukan di Balai Yasa Manggarai. Rangkaian ini memiliki jendela kecil layaknya pesawat. ​Rangkaian ini hanya digunakan kurang lebih lima tahun. Pada 2016 silam, Dwipangga mendapat rangkaian K1 baru buatan INKA, bersama dengan Argolawu. Kelas pelayanan Dwipangga ditambah pada 26 Mei 2019 silam, dengan hadirnya kelas Luxury. Rangkaian Dwipangga kembali diganti pada 2019, dengan kereta-kereta baru buatan INKA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!