Menu Tutup

Kereta Api dan DI-TII, Bagian Kedua

Bagian pertama membahas tentang gangguan terhadap stasiun, sementara bagian kedua membahas tentang gangguan terhadap kereta api, baik rangkaian maupun petugasnya, pada kurun waktu 1951 hingga 1954, walaupun antara 1953-54 datanya kurang lengkap.
1951 :

  • 24 Juli, empat orang pengacau bersenjata pisau melarang masinis untuk berangkat di Cangkring.
  • 10 Agustus, Cangkring, dua orang pengacau menaiki lok dan memaksa masinis untuk berjalan dengan perlahan. Dua orang pengacau lainnya menaiki DL (Kereta Bagasi dengan rem vakum), menodong pegawai DKA yang berada di dalamnya, dan menurunkan muatan berupa empat baal kain.
  • 2 September, KA 220 dihadang oleh gerombolan yang memasang semboyan 3 di km 232+700 petak jalan Luwung-Sindanglaut. Gerombolan lalu menaiki KA 220, menggeledah dan merampas harta benda penumpang, serta menculik seorang Tionghoa.
  • 15 September, KA 225 ditembaki oleh gerombolan di petak jalan Prupuk-Songgom.
  • 16 September, KA 2227 dihadang gerombolan di km 209+4/5 petak jalan Babakan-Waruduwur. Masinis ditodong pistol, sementara 24 ekor sapi muatan KA 2227 dibawa lari.
  • 19 Oktober, KA 1 dihadang gerombolan di Cilegeh. Penumpang dirampok, dan beberapa orang tentara yang ada di dalam kereta menjadi korban

1952

  • 2 Februari, sebelum KA pertama lewat, di Jembatan Citiis antara Lebakjero-Nagreg ditemukan 8 buah bantalan terbakar akibat sabotase.
  • 9 Februari, KA 205 yang berangkat dari Cilegeh pukul 18.35 ditembaki dari sisi kiri-kanannya oleh gerombolan di petak Cilegeh-Haurgeulis. KA 205 ditembaki karena tidak mau berhenti. Masinis KA 205 menyadari cara memberikan semboyan 3 yang dilakukan oleh gerombolan berbeda dengan yang dilakukan oleh petugas DKA. Saat diperhatikan lebih lanjut, bendera merah yang digunakan untuk semboyan 3 ternyata bergambar bulan sabit. Akibat tembakan dari gerombolan, masinis tertembak di tangan, seorang juru rem tertembak di pinggang, dan seorang penumpang tertembak kakinya.
  • 10 Mei, KA 8319 ditembaki dari kiri dan kanannya oleh gerombolan di km 199+010 petak Leles-Lebakjero. Akibatnya, 12 orang mengalami luka-luka.
  • 11 Mei, di km 199+010 petak Leles-Lebakjero, juru penilik jalan menemukan tumpukan batu dan lesung di rel. Hal ini merupakan tindak sabotase yang ditujukan ke KA 8319, yang untungnya sudah melewati lokasi sebelum batu dan lesung dipasang di rel.
  • 26 Juni, KA 8209 ditembaki gerombolan di petak Cipunegara-Pegadenbaru. Beruntung tidak ada korban, hanya kaca jendela kereta pecah akibat tembakan.
  • 5 Juli, KA 2332 dihentikan oleh Mandor bernama Agus Eman di km 222+4/5 karena rel di depannya telah disabotase. Sambungan rel dan baut bantalan sebanyak 6 buah di sisi kanan telah dilepas oleh gerombolan.
  • 24 Juli, KA 8343 ditembaki oleh gerombolan di petak Lebakjero-Nagreg. Akibatnya, 8 orang mengalami luka-luka.
  • 26 Juli, KA 8317 Cepat Yogyakarta-Bandung terguling di km 223+3/4 petak Warungbandrek-Malangbong akibat tiga batang rel dilepas oleh gerombolan. D52064 terguling, bersama DL-7021, CL-5113 dan CL-5067. Akibat kejadian, 6 orang meninggal dunia, 10 orang luka berat, dan 3 orang luka ringan. Setelah KA terguling, gerombolan muncul dan merampas harta benda penumpang.
  • 6 Agustus, KA 8317 Cepat Yogyakarta-Bandung ditahan oleh TNI di Stasiun Malangbong karena ada pertempuran. 2 orang penjaga isyarat jalan KA (Semboyan 2C) disergap dan dianiaya oleh gerombolan pada pukul 15.00 di km 224+2/3.
  • 27 Agustus, KA 8340 dihentikan di km 222+7/8 karena diketahui ada gerombolan yang sedang membongkar rel di km 223+4-6. Setelah keadaan aman, dan dicek, pada km 223+4/5 relnya sudah digeser +-20 cm dari posisi semula, serta 4 buah mur-baut dan 6 buah bantalan dan sambungan rel telah dibuang.
  • 12 Oktober, KA 421 terguling di petak Bumiayu-Linggapura karena sabotase.
  • 14 Oktober, KA 2313 melanggar sepotong rel yang dipasang berdiri di tengah baan pada km 146+8 petak Cilame-Sasaksaat. Akibatnya, koevanger/cowcatcher lok rusak, KKR-30515 dan KR-29304 anjlok.
  • 2 November, KA 354 ditembaki oleh gerombolan di km 246+0-2. Satu gerbong terkena tembakan.
  • 1 Desember, rel di petak Bumiayu-Kretek sepanjang 12 meter dibongkar oleh gerombolan.
  • 9 Desember, KA pertama dari Tegal terguling di petak Balapulang-Margasari karena relnya dibongkar gerombolan.
  • 24 Desember, KA 5 Ekspres Surabaya-Bandung ditembaki gerombolan di petak Malangbong-Warungbandrek. 2 orang penumpang tertembak, 1 diantaranya menderita luka berat.

1953

  • 5 Januari, berdasarkan laporan dari seorang juru penilik jalan bernama Soelaeman, seluruh kawat di sisi kiri-kanan rel di km 224+2-4 petak Warungbandrek-Malangbong putus akibat pertempuran tanggal 4-5 Januari.
  • 7 Januari, pukul 09.20, Kepala Stasiun Cibatu menerima laporan dari Letnan Soepardi, bahwa di Gunung Cupu di km 224 petak Warungbandrek-Malangbong terdapat sekitar 4000 orang gerombolan yang hendak melakukan penyerangan. Atas perintah komandan TNI, KA 8306 yang ditahan di Stasiun Warungbandrek mundur kembali ke Cibatu. Perjalanan KA kemudian ditangguhkan hingga esok harinya.
  • 31 Januari, KA 2305 (KA Barang Banjar-Cibatu) dihadang oleh gerombolan di km 239+8 petak Trowek-Cipeundeuy. Gerombolan menghentikan KA 2305, setelah sebelumnya merampas 1 verbandtrommel, 1 bendera merah, dan barang-barang milik pegawai.
  • 2 Februari, dari laporan pegawai yang berdinas KA 2305 kepada Kepala Stasiun Cipeundeuy, di km 239 petak Trowek-Cipeundeuy ada lasplaat rel dan 3 bantalan rel yang dilepas bautnya, sementara di sisi kiri rel sudah terlihat sekitar 150 orang gerombolan. KA 8504 dan KA 64 kemudian ditahan oleh Kepala Stasiun Cipeundeuy di Stasiun Cipeundeuy, sementara KA 317 dan KA 5 ditahan di Ciawi. Lalu lintas KA kembali normal setelah TNI menyatakan keadaan telah aman pukul 18.40.
  • 6 Februari, KA 2311 anjlok di km 149+3-6 petak Cilame-Sasaksaat. Gerbong GX-17 dan GR-3614 anjlok masing-masing 2 as dan 1 as, sementara 13 gerbong lainnya sebelah rodanya berada di atas rel paksa/gongsol. Anjloknya KA 2311 disebabkan karena 3 buah baut dan plat rel paksa di km 149+621 dilepas oleh gerombolan. Akibatnya, saat lok dan rangkaian melewati lokasi, rel paksa bergeser kedudukannya, dan terinjak oleh roda-roda gerbong.
  • 12 Februari, 16.30, KA 64 terguling di km 224+3/4 petak Warungbandrek-Malangbong. Akibatnya, D52080 terguling ke sisi kanan, DL-590 terangkat miring ke kanan dan menembus separuh badan kereta CL-1347, dan kereta BEL-5007 anjlok. 3 kereta CL masih berada di atas rel, tidak ikut anjlok. 2 orang pegawai DKA dan 1 orang penumpang luka berat, sementara 8 orang pegawai DKA luka ringan. Setelah KA terguling, sekitar 25 orang gerombolan lalu melepas tembakan beberapa kali, kemudian menghampiri KA yang terguling. Barang-barang dan harta benda milik sekitar 70 orang penumpang kemudian dirampas. Gerombolan kemudian mundur pada pukul 17.15.
D52080 yang terguling. Foto diambil dari buku Propinsi Djawa Barat terbitan Kementerian Penerangan
Rangkaian yang terguling, dilihat dari depan. Foto diambil dari buku Siliwangi dari Masa ke Masa.
Rangkaian yang terguling dilihat dari belakang. Nampak DL-590 terangkat dan menembus badan kereta CL-1347. Foto diambil dari buku Propinsi Djawa Barat terbitan Kementerian Penerangan.
  • 17 Februari, KA 21 Cepat Yogyakarta-Gambir ditembaki dari sisi kiri-kanannya oleh gerombolan di km 315/316 petak Kretek-Bumiayu. Seorang penumpang tertembak di kakinya, dan seorang penumpang wanita Kaukasia/Eropa terkena pecahan kaca.
  • 28 Februari, di km 220+8/9 petak Warungbandrek-Cibatu, KA 8306 Penumpang terguling pada pukul 06.15 akibat sabotase gerombolan. Gerombolan membongkar 2 buah lasplaat dan 29 buah tirpen. Akibatnya, KR-910 berisi pasir yang diletakkan di depan lok hancur akibat tertimpa lok, lok terbalik hingga rodanya menghadap ke atas, DL-552 keluar dari rel, dan BCL-254 anjlok satu as. Setelah KA terguling, pengawal KA kemudian terlibat kontak tembak dengan gerombolan selama sekitar 30 menit. Akibat pertempuran, 2 orang pengawal KA mengalami luka parah, namun KA terhindar dari perampokan.
  • 11 Maret, di km 289+4/5 petak Ciamis-Bojong, juru penilik jalan menemukan tumpukan batu yang menghalangi rel. Polisi dan tentara kemudian melakukan pemeriksaan di lokasi. KA 300 ditahan di Ciamis, menunggu keadaan dinyatakan aman. Setelah keadaan aman, KA 300 kemudian diberangkatkan, dengan keterlambatan selama 22 menit.
  • 10 April, KA 236 diserbu oleh gerombolan di km 286-287 petak Songgom-Prupuk. Akibatnya, seorang calon kondektur bernama Suwelas, seorang tentara, seorang polisi, dan dua orang penumpang menjadi korban.
  • 22 Agustus, sebuah rangkaian KA terbalik di Gadobangkong akibat sabotase gerombolan.
Foto diambil dari buku Siliwangi dari Masa ke Masa

  • 12 Agustus, sekitar pukul 19.00, sebuah KA Barang yang ditarik oleh lokomotif DD52 anjlok di Jembatan Citiis karena sabotase oleh gerombolan. Akibatnya, beberapa gerbong terjatuh ke jurang di bawah jembatan. 3 orang meninggal dunia, sementara 2 orang lainnya luka berat. Korban kemungkinan adalah juru rem/kondektur KA. Akibat kejadian ini, DKA mengalami kerugian material hingga Rp. 150.000.
Foto diambil dari buku Siliwangi dari Masa ke Masa
Foto koleksi Perpustakaan Nasional

 

Referensi

  • Disjarahdam VI/SIliwangi. 1979. Siliwangi dari Masa ke Masa. Penerbit Angkasa;Bandung.
  • Kementerian Penerangan. 1953. Republik Indonesia – Propinsi Jawa Barat. Koleksi Perpustakaan Universitas Michigan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!