Menu Tutup

Kereta Api dan DI-TII, Bagian Pertama

Indonesia pada dekade 1950an digoncang oleh beberapa pemberontakan. Salah satu pemberontakan besar pada awal berdirinya Republik Indonesia adalah Pemberontakan Darul Islam-Tentara Islam Indonesia. Pemberontakan ini sempat berkobar hebat di Jawa Barat dan Jawa Tengah bagian barat, membawa dampak terhadap perkeretaapian di wilayah tersebut.
Hubungan Kereta api dan DI-TII bukanlah hubungan hangat, namun hubungan pahit yang penuh darah dan air mata. Kereta Api menjadi sasaran DI-TII, baik untuk diganggu, diserang dan dirampok, bahkan disabotase. DI-TII menerapkan strategi Perang Semesta, dimana mereka yang dianggap melawan dan berpihak ke Pemerintah Pusat akan dihabisi tanpa ampun. Strategi ini menyebabkan terjadinya pembantaian terhadap penduduk beberapa desa di Jawa Barat, seperti di Buligir, Tasikmalaya, yang dianggap pro-Pemerintah Pusat. Penduduk desa dibantai tanpa pandang bulu, baik laki-laki ataupun perempuan, dewasa ataupun anak-anak, semua yang terlihat oleh gerombolan (sebutan bagi pemberontak) akan ditembak mati atau dibunuh. Gerombolan juga tidak segan-segan untuk menembaki KA Penumpang yang membawa warga sipil. Di bawah ini adalah daftar gangguan terhadap kereta api yang dilakukan oleh DI-TII di Jawa Barat periode 1951 hingga awal 1953. Bagian pertama ini membahas gangguan yang dilakukan oleh DI-TII terhadap stasiun maupun perhentian.

1951

  1. 30 April, +-23.00 . Stasiun Telagasari dibakar. Alat-alat kantor dan penunjang operasional KA juga ikut dibakar.
  2. 18 Mei, di emplasemen Cilegeh terjadi kontak senjata antara TNI dengan pemberontak DI-TII.
  3. 7 Agustus, KA 241 diserang oleh sekitar 40 orang gerombolan bersenjata pistol di Stasiun Luwung. KA ditahan selama sekitar 15 menit, memberi waktu bagi gerombolan untuk merampas muatan gula pasir di GR-700 hingga habis.
  4. 23 Agustus, Stasiun Cangkring dibakar.
  5. 8 Oktober, Stasiun Bayongbong diserang. Barang-barang di stasiun, seperti pesawat telpon hingga karcis hilang dibawa gerombolan.
  6. 15 Oktober, Stasiun Leles mengalami kerusakan akibat pertempuran yang terjadi di sekitar stasiun pada pukul 20.00 hingga 23.00.
  7. 10 November, akibat pertempuran di sekitar Stasiun Ciawi, banyak kawat sinyal yang terputus.

1952

  1. 7 Maret, KA 8217 yang sedang berhenti di Perhentian Tengahtani diserang gerombolan. Gerombolan merampas empat buah kantong pos berisi uang tunai senilai Rp. 60.200.
  2. 16 April, Stasiun Warungbandrek diserang gerombolan. Pintu dan alat-alat kantor dirusak. Uang sebesar Rp. 16,45 dibawa kabur.
  3. 4 Juni, Stasiun Telagasari kembali dibakar oleh gerombolan.
  4. 15 Juni, untuk kedua kalinya (yang pertama pada 18 Mei) Stasiun Kaliwedi didatangi oleh gerombolan. Gerombolan meminta uang Rp. 600. Uang yang tersedia hanya sebesar Rp. 230. Uang ini kemudian diambil oleh gerombolan, yang berjanji akan datang kembali untuk mengambil kekurangannya. Akibat kejadian ini, Kaliwedi kemudian ditutup untuk sementara.
  5. 20 Juni, KA 224 ditahan oleh gerombolan di Stasiun Luwung. Gerombolan kemudian merampas harta benda penumpang dan menculik seorang penumpang Tionghoa, seorang penumpang perempuan Tionghoa, dan seorang penumpang Bumiputera.
  6. 27 Juni, KA 354 yang sedang berhenti di Warungbandrek diserang oleh gerombolan. Gerombolan yang mengatasnamakan Tentara Islam Indonesia kemudian merampas harta benda penumpang.
  7. 1 Juli, sekitar pukul 17.00, Perhentian Pasirjengkol diserang oleh sekitar 200 orang gerombolan berseragam dan bersenjata lengkap. Uang kas sebesar Rp. 58,50 dan uang pegawai sebesar Rp. 24,50 dirampas.
  8. 14 Juli, Pos TNI di Stasiun Kadokangabus/Kedokangabus diserang oleh gerombolan. Kawat sinyal masuk pihak Cilegeh putus akibat pertempuran.
  9. 2 Agustus, pertempuran terjadi di sekitar Stasiun Cikajang. Rumah dinas DKA dibakar, lokomotif yang parkir terkena peluru nyasar, pintu dan jendela stasiun dirusak, harta benda Kepala Stasiun dan seorang Kondektur dirampas, kantor polisi dibakar, dan seorang polisi ditembak.
  10. 4 September, Pos TNI di Stasiun Kadokangabus kembali diserang oleh gerombolan. Pertempuran berlangsung dari pukul 01.30 dinihari hingga pukul 02.30. Gerombolan kembali menyerang pada malam harinya, sehingga pertempuran kembali berkobar hingga pukul 21.30 . Seorang anggota mengalami luka-luka, dan kawat sinyal stasiun banyak yang putus.
  11. 16 September, Stasiun Bulakamba dibakar oleh gerombolan.
  12. 2 Oktober, Perhentian Tunggilis dirusak oleh gerombolan. Satu buah pet putih dan satu buah almanak dicuri.
  13. 15 Oktober, Stasiun Karangpucung diserang oleh sekitar 40 orang gerombolan. Saat diserang, KA 8305 sedang berhenti di Stasiun. Uang kas Stasiun sebesar Rp. 60,20 dan uang/harta benda penumpang dirampas.
  14. 10 Oktober, sekitar pukul 18.45, terdengar suara-suara tembakan di sekitar Stasiun Malangbong. Tembakan kemungkinan besar diarahkan ke stasiun. Akibatnya, genting-genting stasiun terkena tembakan, dan kawat telpon-telegraf terputus.

1953

  1. 23 Februari, rumah Kepala Stasiun Bangoduwa dirampok oleh gerombolan sekitar pukul 22.00. Harta benda Kepala Stasiun dirampas. Total kerugian sebesar Rp. 687,50.

Sumber :
Kementerian Penerangan. 1953. Republik Indonesia – Propinsi Jawa Barat. Koleksi Perpustakaan Universitas Michigan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Tidak Diperbolehkan Menyalin Isi Laman Ini