Menu Tutup

Dia Cuma Sepotong Mur Kecil

*Tulisan dibawah ini disalin dari sebuah artikel koran dengan judul yang sama, koleksi Bpk. Mohamad Lutfi Tjahjadi*

Udara dingin yang menyusup tulang tak boleh menjadi penghalang tugasnya, sebab ia memang bekerja malam hari, di daerah pegunungan itu. Namun guruh sejak tengah malam sudah mengguntur di sebelah selatan, dan angin gunung yang sangat sejuk bertiup kencang, membuat ia gelisah. Emod (42 tahun), bangkit malas dari tempat peristirahatannya di setasiun Cilame, sekitar 30 km sebelah barat Bandung. Sarungnya ditarik kesana-kemari melingkari tubuhnya, mencoba menutupi badan yang diserang udara dingin itu. Ditarik ke atas, bagian bawah terserang dingin. Menutup bagian bawah, kepalanya kedinginan. Pukul 00.30, kepala setasiun Cilame mengingatkan Emod bahwa ia harus mulai melaksanakan tugasnya, berjalan sepanjang tujuh kilometer, meniti rel kereta api ke arah setasiun Sasaksaat di sebelah barat. Berat perjalanan ini. Selain malam yang semakin pekat akibat pertiwi dipeluk awan hitam tebal, juga ia sangat khawatir hujan serta kilat akan mengganggu pekerjaannya. Lebih dari separuh dari jarak yang harus ditempuhnya itu berupa jembatan. Dari 12 buah jembatan di antara dua setasiun itu, ada 11 jembatan panjang. Sampai 350 meter panjangnya dan dalam 70 meter, terakhir adalah jembatan kecil 6 meter dekat setasiun Sasaksaat.

Tanpa jas hujan di tubuhnya, kecuali hanya sarung dekil dan topi ‘cetok’, ia mulai meniti jalan kereta api. Di tangan kanannya tergantung sebuah lentera minyak, sementara ditangan kiri ada dua buah kunci dan sebuah martil berukuran besar. Memang itu senjatanya dalam bertugas. memeriksa jalan kereta api sebelum kereta pertama lewat, mengencangkan baut-baut dan mur yang kendor atau menemukan sambungan-sambungan rel yang renggang atau terlepas. Dingin atau hujan kecil tak terlalu merepotkan dirinya, walau ia harus ekstra hati-hati mendaratkan kaki-kakinya di balok-balok rel sepanjang 7 km itu. Namun pesan dari beberapa pemeriksa jalan kereta yang lebih tua, sebisa mungkin ia harus menghindari hujan disertai kilat setiap memeriksa rel di jembatan pada malam hari. Kilat yang benderang akan membutakan pandangan dan bila orang sedang berada di atas jembatan, sebaiknya berhenti melangkah, dari pada terpeleset. Terpeleset berarti “game”, terjatuh dari ketinggian 70 meter seperti terjadi pada seorang anak sekolah belum lama ini. Dan Emod tak suka dalam tugasnya sebagai pegawai negeri baru dia harus berakhir di dasar jembatan.

Sembilan jembatan sudah berhasil dilalui Emod, sementara halilintar dan kilat mulai memancar dekat-dekat dalam pertengahan perjalanannya. Namun Emod selalu berhasil menghentikan langkah pada saat kilat membersit. Mendekati jembatan Cikubang, 146 km dari Jakarta, hujan makin deras, balok-balok penunjang rel makin licin. Emod bimbang. Ia tak berani berjalan cepat-cepat untuk menghindari kecelakaan sambil melakukan pemeriksaan rel, padahal sisa jarak sekitar 2 km ke Sasaksaat harus segera harus cepat ditempuhnya. Di belakangnya sebentar lagi akan tiba rangkaian kereta api barang “Avon” dari arah Bandung dan sebelum kereta itu lewat, ia harus sudah aman ada di Sasaksaat. Masuk ke jembatan Cikubang, dipercepat langkahnya. “Paling tidak kalau kereta avon itu lewat, aku harus ada di luar jembatan”, pikirnya.

Tiba-tiba, hampir di tengah jembatan di atas sungai Cikubang yang mengalir 70 meter dibawahnya, alam sekitar terang benderang karena kilat. Apa yang dikhawatirkannya terjadi, matanya mengalami kebutaan sekilas. Bukan cuma itu, akibat silau ia jadi ragu melangkah, cuma ujung kakinya yang berhasil mendarat di balok kayu jati dan iapun terpeleset. Jurang menganga di bawahnya. Kunci-kunci, martil, dan lampu semua terlepas saat ia terjatuh itu. Namun Tuhan masih melindungi dirinya yang saat itu masih berusia 21 tahun. Ia tersangkut di besi silang jembatan sekitar 20 cm dibawah balok-balok itu. Alhamdulillah, ia selamat, namun kaget dan merasa pusing menyebabkan ia tercenung di sana agak lama. Guruh meredam bersambungan, mirip suara kereta api meniti jembatan. Ia berniat bangkit, segera meneruskan perjalanan walaupun lentera dan kunci-kunci hilang. Ia bangkit pelan-pelan, hampir saja ia tidak menyadari kehadiran lokomotif disel CC200 dari arah belakangnya, sebab suaranya mirip dengan suara guruh mengamuk. Ia merapatkan badannya ke ruang di antara dua balok secepat kilat. Namun raksasa itu lebih cepat dari kesadaran Emod. Punggungnya diseruduk lokomotif itu, menyebabkan keningnya terantuk balok. Tidak cuma itu. Bagian bawah lokomotif itu juga menyambar kepala Emod yang agak lambat disembunyikan, membuat luka panjang di punggung dan kepala sebelah kanannya.

Masinis bukannya tak menyadari ada orang tersambar kereta,namun tak mungkin baginya menghentikan kereta api seperti menghentikan mobil. Masinis itu kemudian melapor ke Sasaksaat dan tak lama kemudian Emod muncul bersimbah darah. Esoknya, Emod dibawa ke rumah sakit Cikalong dan punggung serta kepalanya dijahit. “Hingga kini, akibat kecelakaan itu masih terasa,” ucap Emod. Pusing-pusing sering menyerang dirinya, dan kalau sudah demikian, ia tak mampu melaksanakan tugasnya. Masih untung, ia yang waktu kecelakaan masih berstatus calon pegawai, tidak diafkir karena sakitnya, malah segera diangkat sebagai pegawai penuh. Kini, dengan 4 orang anak, tertua usia 20 tahun dan baru duduk di kelas 6 SD, ia tetap bertugas sebagai pemeriksa jalan kereta api dengan pangkat golongan I-C dengan gaji Rp. 64.000,- sebulan. Lebih 20 tahun pekerjaan yang sama itu ditekuninya. Tak ada hasratnya untuk lebih menanjak dalam karier. Ia puas dengan yang diraihnya, apalagi ia cuma lepasan kelas 2 SR, sebelum masuk DKA pada waktu itu.

Hampir semua penumpang kereta api, baik kereta penumpang mewah, atau KRD/KRL, atau kereta barang, tak menyadari kehadiran dan pentingnya peranan Emod dan rekan-rekannya bagi keselamatan perjalanan mereka. Emod-emod ini memang cuma sepotong mur dari sebuah mesin besar, PJKA. Mur kecil, bahkan gurem, tetapi bila mur itu tak terpasang, mesin bisa rusak bahkan tak jalan sama sekali. Orang-orang seperti Emod di jaringan Eksploitasi Barat PJKA ada sekitar 1300 orang, mempunyai andil besar dalam keselamatan perjalanan kereta api. Mereka dengan indera penglihatan bak kucing dan pendengaran tajam menangkap suara dentingan baut-baut kendor, dibebani tugas menyelamatkan perjalanan kereta api. Emod, misalnya, kini berdinas dinihari, berangkat dari Sasaksaat jam 03.35 dan harus tiba di Cilame jam 05.21 setiap hari, kembali ke Sasaksaat jam 07.00. Bila sampai jam yang ditentukan belum muncul di Cilame, kepala setasiun Cilame tak akan berani memberangkatkan kereta api ke arah Sasaksaat, walau Presiden sekalipun yang menumpang dan memaksa pemberangkatan. Kepala setasiun di mana pun, tak akan berani memberangkatkan kereta api tanpa keterangan aman dari orang-orang seperti Emod. Bila pemeriksa jalan kereta api terlambat tiba, pasti ada sesuatu yang tidak beres di tengah perjalanan dan ia sedang sibuk melakukan perbaikan.

 

Sepuluhan tahun lalu, orang-orang seperti Emod kurang mendapatkan penghargaan. Tidak hanya mereka, tetapi juga penjaga pintu perlintasan, pemeriksa terowongan dan sebagainya. Waktu itu, jangankan gaji dan fasilitas baik. Jas hujan yang sangat diperlukan Emod bertugas saja tak tersedia. Kini, Emod bangga. Jas hujan dibagikan pimpinan PJKA, juga pakaian abu-abu rapi, sepatu karet dan helm yang terbuat dari fibre glass. Gaji juga lumayan, untuk kehidupan kampung di Sasaksaat ini. Sama seperti kepala setasiun Sasaksaat, Endang, ia juga menggarap tanah milik PJKA, menanaminya dengan singkong. Malah kata Endang, dengan hasil kebunnya itu, ia berharap sekeluarga dapat merayakan lebaran mendatang. Kini, singkong sedang tumbuh subur, diperkirakan panen pada bulan puasa mendatang. Emod tidak hanya mencadangkan hasil singkong untuk Lebaran. “Nana, anak saya tak ingin sekolah terus, dia ingin kursus montir mobil,” ujar Emod. Usia 20 tahun untuk tamatan SD memang cukup tinggi dan ayahnya setuju Nana kursus montir. Tetapi muncul persoalan, tak ada kursus demikian di Sasaksaat, Cilame atau Cikalong, dan Plered. Dia harus ke Bandung, tetapi tinggal dimana? Gaji Emod takkan cukup untuk indekos Nana. Lalu? “Ah, kumaha engke… (bagaimana nanti),” kata Emod pasrah. Kalau ia berpikir terlalu keras, pasti kepalanya akan pusing-pusing tak bisa kerja.

Emod dengan cacatnya bagai tentara tertembak dalam pertempuran. Pengorbanannya patut dihargai, apalagi ia terbukti tetap melaksanakan tugasnya yang sisa dalam simbahan darah, tanpa alat-alatnya yang jatuh ke dasar jembatan. Tetapi dari golongan dasar, tidak cuma Emod yang mempunyai sikap demikian. Masih banyak Emod-Emod lain yang mampu memberi warna cerah pada PJKA. (Penulis : Moch S Hendrowijono)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Tidak Diperbolehkan Menyalin Isi Laman Ini