Menu Tutup

Jalan Panjang Gaya Baru

Gaya Baru Malam Selatan di Stasiun Jatibarang, 1 Oktober 1980. Foto : Werner Brutzer

Gaya Baru bukan nama baru dalam perkeretaapian Indonesia. Nama Gaya Baru sudah ada sejak dekade 1960an. Ada tiga versi arti nama Gaya Baru. Yang pertama, kata Gaya merupakan akronim atau kependekan dari Gambir-Surabaya. Sementara versi kedua menyatakan Gaya Baru memiliki makna munculnya gaya baru dalam perjalanan kereta api, yaitu pemberian tuslah makan bagi penumpang. Versi ketiga, Gaya Baru merupakan nama yang disematkan bagi KA-KA yang menggunakan kereta yang dilengkapi dengan rem udara tekan, sesuatu yang baru di era 1960an.

Dalam catatan Bapak Asep Suherman, seorang railfan senior, PNKA meluncurkan Gaja Baru pada 28 September 1964. KA ini berstatus Limited Express (yang mungkin setingkat diatas Pattas). Merujuk pada Jadwal 1965 , KA ini melayani rute Gambir-Surabaya via Yogyakarta, Gambir-Surabaya via Semarang, dan Bandung-Surabaya. Pada jadwal 1965, KA ini disebut sebagai EGB (Ekspres Gaja Baru). KA ini diberi nomor 1E-6E, dengan rincian :
1E : Surabaya Pasarturi-Semarang-Gambir
2E : Gambir-Semarang-Surabaya Pasarturi
3E : Surabaya Kota-Yogyakarta-Bandung
4E : Bandung-Yogyakarta-Surabaya Kota
5E : Surabaya Kota-Yogyakarta-Gambir
6E : Gambir-Yogyakarta-Surabaya Kota

Rangkaian KA 2E digabung dengan KA 6E, lalu dipisah di Cirebon. Sementara rangkaian KA 3E digabung dengan KA 5E, dipisah di Kroya. Penggabungan ini mungkin untuk efisiensi perjalanan KA. Pada 1968, PNKA meluncurkan Gaja Baru Malam. Berdasarkan penuturan Bpk. Daryo Wihardja, seorang pensiunan, Gaja Baru Malam yang diluncurkan ini juga dikenal dengan nama Limex (Limited Express). Limex/Gaja Baru Malam merupakan KA kelas 1, dengan stamformasi 6 AW + FW + DW. Limex ini dikemudian hari berubah menjadi Mutiara Utara.

 

 

Gaya Baru Malam Utara
Gaya Baru Malam Utara berasal dari KA Kilat Malam rute Jakarta-Surabaya Pasar Turi yang sudah ada sejak era 60an akhir. Kilat Malam ini berjalan dibelakang Limex. Pada Jadwal 1971, Kilat Malam berganti nama menjadi Gaja Baru Malam, seiring Limex yang berganti nama menjadi Mutiara.

Gaya Baru Malam Utara di Stasiun Pasar Turi. Foto : Bpk. Mohamad Luthfi Tjahjadi
Jadwal KA Kilat Malam, 1969
U10
Djakarta – (Berangkat dari Gambir)
Gambir ber. 16.10
Tjirebon dat. 20.26, ber. 21.14
Tegal dat. 22.45, ber. 22.49
Pekalongan dat. 00.10 ber. 00.19
Semarang Tawang dat. 02.18, ber. 02.45
Tjepu dat. 05.32, ber. 05.35
Bodjonegoro dat. 06.20, ber. 06.24
Surabaja Pasar Turi dat. 08.38
U9
Surabaja Pasar Turi ber. 18.36
Bodjonegoro dat. 20.50, ber. 20.55
Tjepu dat. 21.40, ber. 21.45
Semarang Tawang dat. 00.32, ber. 00.56
Pekalongan dat. 02.45, ber. 02.55
Tegal dat. 04.08, ber. 04.18
Tjirebon dat. 05.49, ber. 06.06
Gambir dat. 10.12, ber. 10.18
Djakarta dat. 10.30

 

Salah satu sumber menyebutkan jika Gaya Baru Malam Utara diluncurkan pada 1 Februari 1976, lebih muda dari Gaya Baru Malam Selatan yang diluncurkan pada 17 Februari 1975. Tanggal pada sumber tersebut kemungkinan adalah tanggal rebranding Gaya Baru Malam Utara. Gaya Baru Malam Utara sempat membawa Bagasi Pos di era 1970an. Gaya Baru Malam Utara adalah KA Unggulan meskipun statusnya adalah KA Ekonomi/KA Kelas 3. Tahun 1989, Gaya Baru Malam Utara bernomor 7-8, jauh diatas Parahyangan. Gaya Baru Malam Utara cukup panjang, stamformasi pokoknya 9 K3 + KM3 (1989), dan terkadang ditambah Bagasi. Lok yang digunakan BB301/BB304. Okupansi statis Gaya Baru Malam Utara berkisar 114% berdasarkan data tahun 1990. Memasuki era 1990an, nomor Gaya Baru Malam Utara turun karena Parahyangan mulai naik pamor.

​Stamformasi 1994 :
KA 64 Gaya Baru Malam (PSE-SBI)
KA 65 Gaya Baru Malam (SBI-PSE)
Stamformasi : CC201 + 9 K3 + KM3

Penggunaan CC201 tidak terlalu sering, lebih dominan BB301 dan BB304. Gaya Baru Malam Utara mendapat pesaing di era 1990an. Sekitar 1996, PERUMKA meluncurkan Kertajaya. Kertajaya adalah kereta kelas Ekonomi Plus, sementara Gaya Baru Malam Utara kelas Ekonomi Biasa. Gaya Baru Malam Utara tetap bertahan sekalipun digempur Kertajaya. Penumpang masih banyak yang memilih Gaya Baru Malam Utara. Gaya Baru Malam Utara akhirnya dihapus pada 2002. Saat dihapus, terjadi penumpukan penumpang di Surabaya Pasar Turi. Banyak penumpang yang tidak dapat terangkut Kertajaya.

Gaya Baru Malam Selatan
Sebuah sumber menulis Gaya Baru Malam Selatan diluncurkan pada 17 Februari 1975. Pada Jadwal 1971, hanya ada satu Gaya Baru, yaitu Gaya Baru Malam (via Utara). KA ini adalah KA Baru, mengingat tidak adanya jadwal malam Gaya Baru via Selatan sebelum 1975. Gaya Baru Malam Selatan melayani rute Jakarta-Surabaya Kota via Yogyakarta.
Iklan KA Gaya Baru Malam Selatan. Koleksi Bpk. Mohamad Lutfi Tjahjadi

Dari foto diatas, awalnya Gaya Baru Malam Selatan dijatah BB301. Kemungkinan Gaya Baru Malam Selatan baru dijatah CC201 sekitar 1978/79, saat jumlah CC201 mulai banyak. Sama seperti Gaya Baru Malam Utara, Gaya Baru Malam Selatan adalah KA Unggulan. Gaya Baru Malam Selatan berjalan di rute yang cukup “gemuk”. Data 1990 menunjukan okupansi statis Gaya Baru Malam Selatan sebesar 116%. Pada 1989, Gaya Baru Malam Selatan diberi nomor 9-10, dan membawa 9 K3 dan 1 KM3, ditarik CC201. Nomor Gaya Baru Malam Selatan turun di era 1990an, sama seperti Gaya Baru Malam Utara.

Stamformasi 1994 :
​KA 66 Gaya Baru Malam (JAK-SB)
KA 67 Gaya Baru Malam (SB-JAK)
Stamformasi : CC201 + B + 7 K3 + KM3 + KP3

Gaya Baru Malam Selatan. Foto : Alm. M.V.A Krishnamurti, koleksi Bpk Indra Krishnamurti

Gaya Baru Malam Selatan bernasib lebih baik dari Gaya Baru Malam Utara. Gaya Baru Malam Selatan saat ini berubah menjadi KA Komersial dengan Kelas Ekonomi 80 tempat duduk. Gaya Baru Malam Selatan sendiri menjadi salah satu KA tertua di Indonesia yang masih bertahan tanpa perubahan nama.

 

Yang Lahir dari Gaya Baru Malam

Jayabaya Selatan
Jayabaya Selatan lahir dari Gaya Baru Malam Selatan Lebaran (Jakarta-Yogyakarta-Surabaya). Gaya Baru Malam Selatan Lebaran muncul di era 1980an. Sekitar 1988/89, Gaya Baru Malam Selatan Lebaran dijadikan KA Bisnis. KA ini menyandang nama Gaya Baru Malam Selatan Utama, namun masih hanya berjalan saat Lebaran/Hari Besar. Gaya Baru Malam Selatan Utama dijadikan KA Reguler pada 1990, dan namanya berubah menjadi Jayabaya. Okupansi Jayabaya yang bagus membuat PERUMKA meluncurkan “kembaran” Jayabaya di lintas Utara. Muncullah Jayabaya Utara yang melayani rute Jakarta-Surabaya Pasar Turi. Munculnya Jayabaya Utara membuat Jayabaya berubah nama menjadi Jayabaya Selatan.

Jayabaya Utara tidak bertahan lama. Pertengahan era 1990an, Jayabaya Utara digantikan oleh Gumarang yang berkelas Eksekutif Satwa karena masalah okupansi. Jayabaya Selatan dapat bertahan hingga 2007, sampai akhirnya dihapus karena masalah okupansi, alasan yang sama dengan Jayabaya Utara.

Kedua Jayabaya ini tidak memiliki hubungan dengan Jayabaya masa kini yang melayani rute Jakarta-Surabaya Pasar Turi-Malang. Selain terpaut jauh yang jauh, posisi Jayabaya Utara juga digantikan oleh Gumarang.

CC201 05 dengan KA Jayabaya Selatan, 2004. Foto : Bpk. Mohamad Lutfi Tjahjadi

Jayakarta Premium
Pada 15 Juni 2017, KAI meluncurkan Gaya Baru Malam Selatan Lebaran. KA ini menggunakan K3 Premium yang waktu itu masih baru. Karena okupansinya tinggi, KA ini tetap berjalan selepas musim lebaran dengan nama Gaya Baru Malam Selatan Premium. Hingga pada 28 September 2017, nama KA ini akhirnya diubah menjadi Jayakarta Premium. KA ini menjadi KA Penumpang terpanjang di lintas Selatan Jawa, dengan 13 K3 Premium, MP3, dan Pembangkit. Stamformasi ini ditetapkan per 10 Februari 2021 silam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!