Menu Tutup

Rehabilitasi Jalan Rel di Sumatera Selatan

Pemandangan Stasiun Kertapati 

Untuk memperlancar lalu-lintas kereta api, utamanya angkutan batubara dari Tanjungenim, pada 1959 dimulailah proyek rehabilitasi lintas antara Tanjungenim-Kertapati. Dana untuk rehabilitasi diperoleh dari pinjaman luar negeri Development Loan Fund (DLF) sebesar US$3 juta. Pengerjaan dilakukan oleh DKA/PNKA dengan bantuan USAID. USAID sendiri menunjuk J.G White Engineering Corporation sebagai konsultan. Pinjaman sebesar US$3  juta digunakan untuk membeli alat serta bahan-bahan yang diperlukan. Sebagian rel yang digunakan diambil dari rel yang dibeli oleh DKA melalui pinjaman sebelumnya. Rel ini diambil dari proyek rehabilitasi lintas Jatinegara-Pasirbungur.

Rehabilitasi ini meliputi pergantian rel sepanjang 162 km lintas serta pergantian ballast agar mampu menopang rel baru. Rel lama yang bertipe R25 diganti dengan rel tipe R42 yang lebih besar dan berat. Batang-batang rel tipe R42 yang baru sendiri kemudian dilas menjadi satu batang rel utuh sepanjang 84 meter. Pengerjaan pengelasan ini dilakukan di Balai Yasa/Bengkel Lahat.

Proses pengelasan rel di Bengkel Lahat

Untuk pemenuhan kebutuhan ballast, di Tanjungenim dipasang sebuah mesin penggiling batu yang mampu menghasilkan 60 meter kubik ballast atau 30 meter kubik batu kasar dalam satu jam. Selain itu, dipesan juga 75 unit gerbong ballast jenis ZZOR yang berkapasitas 30 ton. Gerbong-gerbong ini mulai datang pada kurun waktu 1960-1961. Proyek ini sendiri membutuhkan ballast hingga 97 ribu meter kubik.

Mesin penggiling batu di Tanjungenim
ZZOR-30012, satu dari 75 gerbong ZZOR yang dibeli dalam rangka rehabilitasi lintas Tanjungenim-Kertapati. Nampak ZZOR-30012 sedang membongkar muatan ballast.

Proyek ini menemui beberapa kendala selama pelaksanaannya, diantaranya alat dan bahan yang terlambat datang, kurangnya suku cadang, serta sebagian alat yang didatangkan tidak cocok. Diantara alat yang tidak cocok diantaranya adalah kompresor yang kurang besar. Hal ini menghambat pengerjaan proyek ini.  J.G White Engineering Corporation sendiri tidak hanya membantu DKA/PNKA mengerjakan proyek ini, namun juga melatih pegawai DKA/PNKA untuk mengoperasikan peralatan modern dan mechanical track laying. Pelatihan ini dilakukan dalam kurun waktu 18 bulan.

Para pekerja mengebor bantalan kayu untuk menempatkan baut bantalan
Para pekerja melakukan pemasangan bantalan kayu

Pada 1962, saat proyek masih berlangsung, DKA mendatangkan 6 unit lokomotif D52 bekas pakai dari Jawa untuk memperkuat angkutan batubara. Selain itu, DKA juga memesan 400 unit gerbong batubara dari Rumania. Gerbong-gerbong ini tiba mulai 1962, memperkuat angkutan batubara di Sumatera Selatan. Sementara itu, pekerjaan rehabilitasi masih berlangsung hingga 1963. Pada 30 November 1963, proyek ini dapat diselesaikan. Untuk memperingati proyek ini, sebuah tugu peringatan dibangun di area stasiun Kertapati.

Tugu peringatan di Kertapati

 

Referensi :

Majalah Aneka Amerika No. 176, 1964

Panitia Buku 20 Tahun Indonesia Merdeka. 1965. 20 Tahun Indonesia Merdeka Djilid VI.

Tim Telaga Bakti Nusantara.1997.Sejarah Perkeretaapian Indonesia Jilid 2.Angkasa:Bandung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!