Menu Tutup

Arimbi Kontra Bima, Purwokerto, 1980

Bus yang ringsek. Foto : Bpk. Johanes Christiono

Senin dinihari, 12 Mei 1980, Kabupaten Banyumas menjadi geger. Penyebabnya, KA Bima 2 dengan lokomotif CC201 11 bertabrakan dengan bus Arimbi dengan nomor lambung 42 di Perlintasan No. 363 Jalan Veteran, Pasirmuncang, Purwokerto. Bus Arimbi ini tersambar Bima yang baru saja meninggalkan Stasiun Purwokerto.

Bus terseret dan hancur, sementara lokomotif anjlok ke kanan rel. Tabrakan ini memakan korban jiwa sebanyak 22 orang, 14 orang meninggal di lokasi sementara 8 lainnya meninggal setelah dievakuasi. Selain itu, 56 orang lainnya luka-luka, baik luka berat maupun luka ringan.

Badan bus tersangkut di antara tanggul di pinggir rel dan badan kereta. Foto : Tempo, koleksi Roda Sayap

Bus naas ini mengangkut 78 orang penumpang, melebihi kapasitasnya. Saat melintasi JPL 363, bus menerobos palang pintu yang sudah setengah tertutup. Bus kemudian langsung disambar oleh CC20111 yang menarik KA Bima II. Seiring dengan suara benturan keras, bus terseret ke selatan, sementara lokomotif anjlok. Bus yang terseret membentur dinding kereta, sementara rangkaian KA baru berhenti beberapa meter setelahnya, dengan CC20111 anjlok dan miring ke arah kanan rel. Warga segera berhamburan, membantu para korban sebisanya. 14 jenazah dievakuasi, sementara para korban luka segera dibawa ke Rumah Sakit.

Kelalaian pengemudi bus berakhir dengan habisnya dua keluarga. Pak P, seorang pensiunan, kehilangan anak dan dua cucunya yang masih balita. Mereka duduk di bagian tengah bus, hendak ke Jakarta menemui suami anaknya. Pak P terluka cukup berat, namun anak dan kedua cucunya meninggal dunia di lokasi. Keluarga lain yang berasal dari Kalimanah, Purbalingga, habis. Seluruh anggotanya meninggal dunia. Sepasang suami istri yang berumur 25 tahun meninggal dunia bersama dengan anak mereka yang baru berumur 3 tahun. Selain itu, banyak keluarga yang berderai air mata karena kehilangan anggotanya, seperti keluarga M yang menangis saat ditemui wartawan. M yang masih berusia 16 tahun sudah dilarang pergi oleh keluarganya karena hari itu ada pemotretan KTP di desanya. Namun M bersikeras pergi, yang akhirnya ia tak pernah kembali lagi, meninggalkan dunia ini. K, asal Kedung Menjangan Purbalingga, menjadi korban luka, bersama dengan kakaknya, T. Naas, anak T yang baru berusia 10 bulan meninggal dunia, sementara adik K dan T yang berusia 4 tahun luka-luka. 8 orang korban luka-luka meninggal dunia di rumah sakit karena lukanya. Total, 6 penumpang anak-anak, 12 penumpang pria, dan 4 penumpang wanita meninggal dunia. 16 orang korban meninggal dunia berasal dari Purbalingga, sementara 6 sisanya berasal dari Banyumas. 58 korban luka-luka segera dibawa ke RSU Purwokerto dan RS Wijayakusuma. 27 orang luka berat, sementara 29 orang lainnya luka ringan. 8 orang korban luka ringan sudah diizinkan pulang pada 16 Mei, sementara sisanya masih dirawat di Rumah sakit. Seorang korban luka, S, asal Wonolelo Wonosobo, saat ditemui wartawan hanya meminta agar kabar dirinya bisa sampai ke desanya di Wonosobo. Ia berangkat ke Jakarta untuk menemui anaknya, namun naas, ia menjadi korban luka.

PJKA menderita kerugian besar, dengan kerugian diperkirakan sebesar 1 milyar Rupiah. Kerugian ini berasal dari lokomotif yang rusak, rel yang rusak, serta kerugian lain akibat perjalanan KA yang memutar atau dibatalkan. PJKA memperkirakan proses perbaikan akan memakan waktu 2 hari. Karena rel rusak dan rangkaian berada di atasnya, PJKA harus membuat rel temporer di sisi timur rel asli. Dari rel temporer ini dilakukan proses evakuasi lokomotif yang anjlok. Setelah lokomotif berhasil dievakuasi, rel temporer kemudian dibongkar dan rel asli diperbaiki.

Pengemudi Bus, M, diputus bersalah oleh pengadilan setahun kemudian. M dianggap lalai karena menerobos pintu perlintasan, serta memuat penumpang melebihi kapasitas busnya. Pada 20 Januari 1981, M divonis hukuman penjara 15 bulan serta denda Rp. 7500. Peristiwa ini sendiri dikenang oleh warga sekitar perlintasan dengan memberi nama Gang Arimbi dan Gang Bima ke dua gang yang terletak di dekat perlintasan. Nama ini masih bertahan hingga saat ini.

JPL 363 Pasirmuncang, pemotret menghadap ke timur. Nampak palang sisi timur hilang akibat hancur saat tabrakan terjadi. Dipotret setelah evakuasi rangkaian dan lokomotif selesai, 1980

 

Referensi

Suara Karya, Jumat, 16 Mei 1980

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Tidak diperbolehkan menyalin isi laman ini. Hubungi Admin untuk keterangan lebih lanjut.