Menu Tutup

C300, Si Kecil dari Jerman Timur

C300 16 di Depo Bukit Duri, koleksi Bpk. Harriman Widiarto

Pada 1966, PNKA membeli 20 unit lokomotif seri C300 dari VEB Lokomotifbau Karl Marx, Babelsberg, Jerman Timur. 20 unit lok ini tiba di Indonesia pada 1967.

Lok ini memiliki berat siap 30 ton, dengan tekanan gandar 10 ton. Lok ini memiliki panjang (dari ujung coupler) 8020 mm, lebar 2920 mm, dan tinggi 3520 mm. Diameter roda lok ini 904 mm. Lok ini memiliki kapasitas bahan bakar 500 liter, kapasitas minyak pelumas 85 liter, dan kapasitas air 335 liter. Lok ini juga dilengkapi pemasir dengan kapasitas pasir 200 liter.

Lok ini ditenagai mesin diesel buatan Mercedes Benz, seri MB836B. Mesin yang sama digunakan oleh D300 dan D301. Mesin ini mampu menghasilkan tenaga 350 hp, dengan putaran maksimal 1650 rpm. Mesin ini terhubung dengan kopeling hidrolik tipe A.70 TGL3926 sepanjang 750mm yang masuk ke transmisi buatan Voith, seri L203U. Transmisi lalu terhubung dengan satu roda kecil yang tidak menapak rel. Roda kecil ini kemudian terhubung dengan 3 roda lokomotif dengan sebuah batang kopel/drijfstang, yang kemudian menggerakkan lokomotif. Lok ini juga dilengkapi dengan kompresor untuk rem udara tekan. Kompresor yang digunakan bertipe 2 HS 3-71/100 buatan VEB Berliner Bremsen Werk.

Berbeda dengan D300/D301, C300 dialokasikan khusus di Inspeksi I Jakarta, dengan unit-unitnya disebar di Bukitduri dan Tanahabang. C300 digunakan untuk melayani dinasan langsir di sekitar Jakarta, serta dinasan-dinasan KA Lokal jarak pendek di sekitar Jakarta. Sebelum diproduksi, VEB Karl Marx membuat satu unit prototipe dengan nomor seri V30.001. Prototipe ini kemudian diujicobakan di jalur 1000 mm di Harz, Jerman Timur. Setelah uji coba dinyatakan sukses, barulah VEB Karl Marx memproduksi 20 unit C300 untuk PNKA. Nomor seri pabrik C300 sendiri dimulai dari 263002 untuk C300 01 hingga 263021 untuk C300 20. Nomor seri 263001 sendiri digunakan oleh V30.001.

Seiring dengan perubahan Depo Bukitduri dari Depo Lokomotif menjadi Depo KRL, unit-unit C300 yang ditempatkan di Bukitduri dipindah ke Tanahabang. Tanahabang kemudian menjadi rumah bagi seluruh C300. C300 masih digunakan untuk langsiran di sekitar Jakarta dan KA Lokal, hingga kedatangan BB306. Kedatangan BB306 meminggirkan C300. C300 kemudian ditarik dari dinasan langsiran di sekitar Jakarta, “diasingkan” ke Cilegon untuk dinasan langsir Krakatau Steel serta ke Cigading untuk dinasan langsir Batubara. Untuk dinasan ini, digunakan 3 unit lok yang menginap di Cilegon. 2 unit untuk melayani Krakatau Steel, 1 unit untuk melayani Cigading.

C300 tidak mendapat jatah repowering, tidak seperti D300 dan D301. Dengan kondisi demikian, C300 masih mampu bertahan hingga era 1980an, walaupun pada akhirnya sistem kanibal diterapkan untuk menjaga keberlangsungan dinasan C300. Pada 1986, jumlah C300 yang berdinas masih lengkap 20 unit. Pada 1989, jumlah ini menurun drastis menjadi hanya 10 lok. Tercatat 10 unit C300 pada 1989 dimasukkan ke daftar konservasi, sementara di tahun itu terdapat dua unit C300 yang menjalani PA/Perawatan Akhir di Balai Yasa Yogyakarta. Seiring dengan dibukanya Taman Mini Indonesia Indah, 2 unit C300, C300 11 dan 12, dipindahkan ke TMII, tepatnya ke Museum Transportasi. Keduanya digunakan untuk menarik Kereta Wisata mengililingi Museum Transportasi.

C300 20 dan C300 01 di emplasemen Cilegon, +-1993. (Foto : Bpk. Mohamad Lutfi Tjahjadi)

Memasuki era 1990an, jumlah C300 yang siap operasi semakin menurun. Pada 1994, C300 ditarik dari dinasan langsiran di Cigading. Sisa-sisa C300 di Depo Tanahabang kemudian satu-persatu habis, hingga hanya tersisa C300 11 dan 12 di TMII. C300 12 sendiri mati lebih awal, sebelum C300 11 menyusul. Selain C300 11 dan 12, masih terdapat C300 01, C300 04, dan C300 20. Ketiga lok tadi berada di Stasiun Cikampek, dengan posisi diunspoor. Ketiganya menunggu kepastian, menanti preservasi yang tak kunjung tiba.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Tidak Diperbolehkan Menyalin Isi Laman Ini