Menu Tutup

Keluarga Mutiara

Mutiara Utara berangkat dari stasiun Jakarta Kota. Foto koleksi Bpk. Mohamad Lutfi Tjahjadi

​Dalam sejarah perkeretaapian Indonesia, nama Mutiara pertama muncul sekitar 1967/68, dengan rute Surabaya-Jakarta via Semarang. Beberapa tahun kemudian, muncullah 3 KA dengan nama Mutiara. Dua bertahan hingga saat ini, sementara satu harus hilang akibat tuntutan zaman.

Mutiara Utara
Mutiara Utara melayani rute Surabaya-Jakarta via Semarang. Mutiara Utara adalah hasil rebranding dari Limex Gaja Baru yang diluncurkan pada 28 September 1968. Mutiara Utara sendiri diluncurkan pada 27 September 1971. Diantara Mutiara yang lain, bisa dikatakan jika Mutiara Utara yang paling tinggi kelasnya. Mutiara Utara di awal era peluncurannya adalah KA Kelas 1, hanya membawa kereta kelas satu dan kereta makan. Awalnya, Mutiara Utara dihela BB200, namun kemudian diganti menjadi BB304 sekitar 1976. Saat dihela BB200, lok diganti di Semarang. Lok penggantinya juga BB200. Di Surabaya, BB200 yang menarik Mutiara Utara dirawat oleh Depo Sidotopo, bukan Depo Pasarturi.

Iklan KA Mutiara Utara. Koleksi Bpk. Mohamad Lutfi Tjahjadi

Mutiara Utara biasanya membawa 5-6 AW (kereta kelas 1) + 1 FW (kereta makan) dan DW (kereta bagasi). Sebelum era 1980an, suplai listrik untuk rangkaian diambil dari generator yang tersambung dengan bogie kereta. Saat kereta berhenti, listrik dipasok oleh baterai. Mutiara Utara termasuk dalam deretan KA dengan nomor atas pada GAPEKA, menandakan statusnya sebagai KA Unggulan. Pertengahan era 1980an, Mutiara Utara berubah lagi stamformasinya, menjadi KA Campuran Eksekutif-Bisnis.

Stamformasi 1989 :
KA 3 Mutiara Utara (SBI-JAKK)
KA 4 Mutiara Utara (JAKK-SBI)
Stamformasi : 8K1 + K2 + M1 + BP

Memasuki era 1990an, ada dua jenis kelas eksekutif yang dibawa Mutiara Utara, yaitu Eksekutif A dan Eksekutif B. Dua jenis Eksekutif ini bertahan hingga sekitar 1993/1994. Mutiara Utara sempat dihilangkan sejenak saat PERUMKA meluncurkan Suryajaya pada 1994. Namun, Mutiara Utara dimunculkan kembali oleh PERUMKA. Riwayat Mutiara Utara berakhir pada Oktober 1995. Mutiara Utara digantikan oleh Sembrani yang berkelas Eksekutif Satwa.

Mutiara Selatan
Mutiara Selatan melayani rute Bandung-Surabaya via Yogyakarta. KA ini diluncurkan pada 17 Agustus 1972, dengan formasi campuran Kelas 1-Kelas 2. Mutiara Selatan termasuk KA Unggulan yang okupansinya tidak terlalu mengecewakan. KA ini sempat menjadi satu-satunya KA Malam di rute Surabaya-Bandung, awalnya, KA ini dihela oleh BB301, namun diganti menjadi CC201 saat CC201 datang pada 1977. Mutiara Selatan biasanya membawa 2 AW, 4/5 BW, FW dan DW.

Iklan Mutiara Selatan. Koleksi Bpk. Mohamad Lutfi Tjahjadi

Pada 1982, Mutiara Selatan mendapatkan rangkaian baru, K2 buatan Jepang. Sebelumnya, Mutiara Selatan menggunakan rangkaian K2 1978 buatan Jepang, sama seperti Parahyangan. Pergantian rangkaian ini membuat Mutiara Selatan menjadi KA Full Bisnis. Namun, Mutiara Selatan Bisnis ini hanya bertahan hingga sekitar 1984 saja. Setelah itu, Mutiara Selatan kembali menjadi KA Eksekutif-Bisnis.

Stamformasi 1989 :
KA 5 Mutiara Selatan (SGU-BD)
KA 6 Mutiara Selatan (BD-SGU)
Stamformasi : 2 K1 + 5 K2 + M2 + BP

Pada September 1995, Mutiara Selatan harus mengalah dengan Turangga. Waktu itu, PERUMKA meluncurkan Turangga yang kelasnya sama dengan Mutiara Selatan, Eksekutif-Bisnis, bedanya, Bisnis pada Turangga adalah Bisnis Plus. Karenanya, Mutiara Selatan harus mengalah, dan turun kelas menjadi KA full Bisnis. Mutiara Selatan sempat mengenakan livery Satwa sekalipun ia adalah KA Bisnis.

Mutiara Selatan berangkat Bandung. Foto milik Bpk. Happy Mukardi

Pada 2016 silam, Mutiara Selatan sempat menggunakan rangkaian K3 baru buatan INKA. Namun, akibat protes keras dari penumpang yang kurang nyaman dengan K3 baru ini, akhirnya Mutiara Selatan dikembalikan menjadi KA Bisnis. Mulai 03 Oktober 2016 silam, Mutiara Selatan diperpanjang ke Malang. Rutenya menjadi Bandung-Surabaya-Malang. Per 13 Maret 2017, Mutiara Selatan kembali menjadi KA Campuran Eksekutif-Bisnis. Pada 2019, Mutiara Selatan mendapat rangkaian baru, yakni set K1-K3 Stainless Steel buatan INKA. Pada 1 Desember 2019, Mutiara Selatan diperpanjang ke Gambir, membuatnya memiliki rute Gambir – Malang via Bandung. Mutiara Selatanpun menjadi KA dengan waktu tempuh paling lama, sekitar 20 jam. Namun, pada 1 September 2020, Mutiara Selatan dikembalikan ke habitat aslinya, Bandung – Surabaya.

 

Mutiara Timur
Mutiara Timur diluncurkan pada 06 Maret 1973. Anak terakhir dalam Keluarga Mutiara. Awalnya, Mutiara Timur merupakan kereta kelas 2-3. Mutiara Timur memiliki rangkaian paling pendek diantara para Mutiara saat pertama kali diluncurkan. Pun setelah berubah menjadi Eksekutif – Bisnis, rangkaian Mutiara Timur termasuk kurang bagus. Awalnya, Mutiara Timur menggunakan lok diesel hidrolik BB301, BB303, atau BB304. Penggunaan CC201/203 baru dilakukan di era 1990an. Itupun tadinya hanya sampai stasiun Tanggul. Lok harus diganti karena lintas Tanggul-Banyuwangi belum bisa dilalui lok CC. Barulah di era 2000an, CC201/203 dapat berdinas Mutiara Timur full relasi (Surabaya-Banyuwangi/sebaliknya).

Iklan KA Mutiara Timur. Koleksi Bpk. Mohamad Lutfi Tjahjadi

Mutiara Timur diubah kelasnya menjadi Eksekutif-Bisnis pada April 1996. Mutiara Timur sempat tersambung dengan Bali melalui layanan bus. Penumpang dapat membeli tiket terusan Surabaya-Denpasar/Sebaliknya. Surabaya-Banyuwangi dilayani Mutiara Timur, sementara Banyuwangi-Denpasar dilayani oleh bus. Layanan antar-moda ini dimulai sekitar era 1970an. Tadinya, layanan antar-moda ini dikelola oleh CV Rama, rekanan PJKA. CV Rama mengoperasikan bus bernama Mutiara untuk melayani penumpang terusan. Sekitar 2008, CV Rama berhenti mengelola layanan antar-moda Banyuwangi-Denpasar. Layanan ini kemudian diambil alih oleh DAMRI. Sayangnya, layanan ini sudah dihilangkan sejak sekitar 2017 silam setelah kontrak antara KAI-DAMRI habis dan tidak diperbarui lagi.

Mutiara Timur, 2005. Foto koleksi Bpk. Mohamad Lutfi Tjahjadi

Mutiara Timur sempat “naik kelas”, sejajar dengan Mutiara Selatan seiring dengan penggunaan rangkaian baru K1-K3 Stainless Steel buatan INKA. Namun, rangkaian ini ditarik dan diganti dengan K1-K3 80 seat. Selain itu, Mutiara Timur juga diperpanjang ke Yogyakarta. Perpanjangan rute dan pergantian rangkaian kembali membuat Mutiara Timur turun kelas, demikian juga dengan okupansi yang terjun bebas seiring dengan jadwal yang tidak menarik penumpang yang dikombinasikan dengan rangkaian yang buruk dan harga yang mahal.

 

Demikianlah kisah 3 Mutiara Perkeretaapian Indonesia. Satu telah berhenti beroperasi, sementara satu dalam fase hidup enggan matipun segan. Hanya Mutiara Selatan yang masih berdiri kokoh, melintasi zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Tidak Diperbolehkan Menyalin Isi Laman Ini